"UHUIIII... UDAH DEKAT, SETENGAH JAM LAGI...!!!"

“Bantengan, Bantengan,” kata Pak Joko, saat jeep hardtop yang membawa kami dari Pasar Tumpang (Malang) berhenti di atas jembatan beton Pos Bantengan. Kernet jeep itu kemudian menurunkan tiga tas keril kami yang saling bertumpukan dengan keril-keril lainnya di atas kepala jeep. Ia juga menyempatkan diri menunjukkan jalan setapak yang biasa dirambah para pendaki atau backpacker untuk menuju Gunung Bromo. 

“Itu jalurnya, ikuti saja terus sampai nanti ketemu shelter kecil di bawah sana,” katanya dari pinggir jembatan, sambil menunjuk jalanan kecil ber-conblock yang hampir seluruh permukaannya tertutup ilalang. Dari atas jembatan, saya turun dan bergerak mendekati jalur kecil yang ditunjuk Pak Joko. Setelah memeriksa dan meyakini trek tersebut memang mengarah ke bawah bukit, saya kembali ke jembatan. "Wah pemandangannya dari sini keren Bos. Kapan-kapan saya juga mau ke Bromo lewat sini deh," ujar seorang penumpang jeep yang hendak mendaki Semeru. "Hati-hati di jalan Bos," tambah orang itu yang baru saja saya kenal selama perjalanan di atas jeep. 

Beberapa menit kemudian, jeep yang biasa digunakan untuk mengantar para pendaki ke Desa Ranu Pane itu meninggalkan kami, menyisakan debu dan jejak bannya yang sangat kentara. "Istirahat dulu sebentar di pos ini ya?  Sebelum jalan, kita mau makan lagi nggak?" kata saya kepada Gopal dan Dona, sembari memindahkan kerir dari tanah ke atas dipan pos untuk membersihkannya dari debu. "Nggak usah makan lagi Bon. Masih kenyang. Santai dulu aja," tutur Gopal, sambil mengeluarkan satu sachet minuman serbuk rasa orange untuk dicampurkan dengan air mineral dalam botol kecil. 

Setelah beres, Gopal langsung berdiri mantap dengan kerir di punggungnya, begitu juga Dona. Bagi mereka berdua, jalan-jalan ke Bromo ini adalah yang pertama kali, terlebih melalui jalur yang tak biasa ini. Sedangkan bagi saya, jalur ini pernah saya lintasi pada tahun 1999 lalu. 


Setelah berdoa bersama, Gopal langsung berjalan paling depan, menelusuri trek kecil yang di kanan kirinya penuh dengan semak-semak perdu dan rumput-rumput setinggi lutut. Jam di HP telah menunjukkan pukul 17.10 waktu setempat. "Gawat, sebentar lagi gelap. Bisa sampai ke Cemoro Lawang nggak ya?" saya bertanya-tanya dalam hati. Sebab, menurut orang-orang yang pernah melintasi trek ini, dibutuhkan kira-kira 5 jam sampai 6 jam untuk mencapai Cemoro Lawang.

Kami terus jalan menuruni bukit. Trek tampak cukup curam serta licin dengan jalur zig-zag ke kiri dan kanan.  Kemiringan jalur hampir 45 derajat. Jalurnya pun sangat sempit. Bahkan ada beberapa titik yang lebar jalurnya hanya pas untuk dua telapak kaki yang dirapatkan. Lengah sedikit, badan bakal nyungsep, berguling-guling, dan mungkin riwayat bisa 'khatam". Apalagi, beban kerir yang melekat di punggung sangat membatasi gerak dan kelincahan kaki. 

Sesekali saya menyuruh Gopal dan Dona berhenti sebentar di beberapa titik untuk mengambil beberapa jepretan foto  dengan latar bukit teletubbies, bukit ilustrasi yang sering muncul di film anak-anak itu.

Kira-kira setengah jam menuruni bukit, kami tiba di sepetak lahan rata yang dipayungi dua pohon rindang. Ada tali rapia yang masih membentang di dua pohon tadi. Ada pula sisa-sisa arang bekas api unggun. "Wah Pal, kayaknya asyik nih kalau kita bangun tenda di sini. Sekali-kalilah kita nge-camp di tempat kayak gini. Cari pengalaman baru," kata saya kepada Gopal.  

Tapi Dona mengerutkan dahinya sambil melihat saya dengan pandangan yang tidak biasa. "Jangan ah! Kita jalan aja terus. Gue masih kuat kok," tuturnya. Saya menangkap gelagat dia tidak nyaman terhadap aura di tempat itu. "Iya Bon, jangan nge-camp di sini ah! Kita jalan terus aja. Yuk ah!" timpal Gopal sambil kembali menyandang kerirnya. Diam-diam saya mengerti alasan mereka tidak mengiyakan ide tadi. Di sini sepi. Jarang dilewati orang. Tak ada sumber air. Tak ada jaminan keamanan. Bisa jadi tempat ini angker. Bagaimana kalau nanti malam ada orang jahat atau kejadian-kejadian yang susah dijelaskan dengan nalar? Pikiran-pikiran galau langsung memenuhi benak saya saat itu. 

Kami kembali bergerak, hingga menjejak di lahan datar. Sebagian besar permukaan tanah tertimbun oleh abu hitam sisa kebakaran dan debu-debu vulkanik pasca erupsi Bromo di akhir tahun lalu. Kami terus mengikuti jalur hingga berhadapan dengan sebuah saung. Pos Bantengan, begitulah orang-orang menyebutnya. Miris rasanya melihat kondisi pos kecil ini. Genteng-genteng di atapnya sudah tidak ada. Papan kayu yang biasa digunakan untuk duduk-duduk pun sudah tidak ada. Hanya kerangka atap dan empat tiang penyangga saja yang masih tersisa. 

Saya masih ingat, 12 tahun yang lalu, saya dan teman-teman sempat mampir dan beristirahat di pos yang hanya berukuran 2 x 2 meter ini. Waktu itu kondisi pos ini masih lumayan lengkap. Ilalang di sekelilingnya bergerak kompak, bercondong ke satu arah mengikuti gerak angin, dan kadang berubah ke arah sebaliknya. Dulu, tak puas rasanya duduk berselonjor di depan di pos ini sambil membiarkan mata terbius oleh moleknya bukit yang membentang di depan. Teman-teman pun puas bereksperimen membuat gema suara yang paling oke. Tapi itu dulu. Sekarang, kondisinya sangat beda.

Warna langit makin pucat. Kabut-kabut mulai berdatangan, dan beberapa menit lagi gelap bakal menghampiri. Kami bertiga harus kembali bergerak mengikuti jalur pasir. Semakin jauh, permukaan pasir semakin tebal. Tidak ada semak yang sanggup hidup di lautan pasir seperti ini. Di sana-sini ada jejak-jejak ban mobil jeep. Banyak pula jejak roda sepeda gunung dan sepeda motor. 

Hari benar-benar sudah gelap. Senter-senter mulai dinyalakan. Kami bertiga sengaja berjalan berdampingan agar tidak terkena kepulan debu dari entakan sepatu masing-masing.

Beberapa puluh menit berjalan, saya menangkap cahaya (yang mirip dengan cahaya senter) bergerak-gerak dari arah depan, menyelip di antara pekatnya kabut. Ternyata cahaya itu berasal dari lampu sepeda motor yang dikendarai seorang warga Tengger. "Pak numpang tanya, Cemoro Lawang masih jauh ya? Kira-kira berapa jam lagi ya dari sini? tanya saya kepada lelaki warga Tengger itu. "Setengah jam lagi, Dek," jawabnya dengan singkat. Lalu ia kembali memacu kendaraannya ke arah yang berlawanan dengan kami. Entah ke mana tujuan lelaki itu. 


Jawaban singkat tadi seolah menjadi jus segar bagi kami. "Uhuiii..., udah dekat, setengah jam lagi," kata Gopal. Entah kenapa tiba-tiba saja kaki  jadi terasa ringan saat digerakkan. Energi pun jadi bertambah. Dari kejauhan, kelap-kelip lampu pada menara dan perumahan di Cemoro Lawang sudah tampak. "Ayo semangat. Sebentar lagi kita sampai," tambah Gopal kepada Dona. 

Tapi, satu jam berjalan, pemandangan kelap-kelipnya lampu di Cemoro Lawang masih saja terpaut jauh di depan, mungkin masih beberapa kilometer lagi. Keraguan Dona pun muncul. "Hah, setengah jam? Kayaknya bapak tadi ngibul deh. Nggak mungkin setengah jam tuh," tutur Dona saat berhenti sebentar untuk mengatur ritme napas. "Mungkin orang Tengger tadi sengaja bohong begitu supaya kita tetap jalan terus, supaya kita nggak  berhenti di sini. Palingan sebentar lagi kita sampai. Santai saja," ujar Gopal, untuk sedikit menghibur Dona. 

Ah, dugaan buruk saya tenyata benar. Sejak semula, saya memang meragukan jawaban orang Tengger tadi. Saya tahu, jarak menuju Cemoro Lawang memang masih jauh, mungkin sekitar tiga atau empat jam lagi. Tapi hal itu cukup saya saja yang tahu. Sebab, kalau sampai Dona tahu, semangatnya bisa rontok. Saya sih tidak meragukan mentalnya Gopal, karena dia sudah terbiasa menghadapi medan macam apa pun. 

Beberapa kali saya mendongak. Sulit menemukan bintang di langit sana. Sementara kabut benar-benar telah menguasai sekeliling kami. Dan tiba-tiba saja kecemasan menyeruak di kepala. Bagaimana jadinya kalau turun hujan badai? Pasir-pasir vulkanik ini pasti menjadi lumpur. Melangkah di atas padang pasir saja sudah lumayan berat, apalagi bila harus menapaki lumpur. Terlebih, udara di lembah luas ini terkenal sangat dingin. Dan celakanya lagi, saat ini tubuh kami mulai kepayahan. Akh... gawat.  

Kami terus bergerak. Dua jam setengah pun sudah berlalu. Masih saja Cemoro Lawang tampak sombong nun jauh di sana, seolah-olah tak mau dihampiri. Beberapa kali kami harus berhenti. Mengatur napas dan me-refresh tenaga lagi. Berkali-kali.  

Baru saja menenggak air botol mineral, saya melihat sorotan lampu tembak menembus dinding kabut, jauh dari arah belakang. Semakin lama, saya dapat melihat bahwa itu adalah iring-iringan tiga jeep hardtop. "Alhamdulillah, ada kendaraan. Mudah-mudahan bisa ngasih tumpangan," kata Dona. 

Tapi apa lacur, setelah mendekat, jeep-jeep dengan bak tertutup itu lewat begitu saja. Kaca-kacanya gelap, sehingga sulit melihat orang-orang di dalamnya. Mungkin mereka rombongan penggede atau orang-orang kaya yang tidak bisa dan tak mau diganggu. Kami pun tak punya keberanian untuk menyetop mereka. "Huh sombongnya!" kutuk saya. Begitu juga Gopal dan Dona.

Sambil memegang kain slayer untuk menutupi hidung dan mulut dari serbuan abu-abu sisa empasan rombongan jeep tadi, kami kembali bergerak. 10 menit berjalan, di depan kami ada satu jeep yang akan melintas. Tak disangka, jeep tersebut adalah salah satu dari rombongan jeep tadi. Jeep itu lalu berputar dan menghampiri kami. "Mau ke mana, Dek? Ke Cemoro Lawang juga? Ayo ikut kami saja!" kata si pemilik jeep. Huaahhh... akhirnya. "Alhamdulillah ya Allah, pertolongan-Mu telah sampai," seru saya dalam hati. *** (Teks & foto: Bonny Dwifriansyah)

*******************************************************************************

 
 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Laman