DUA HARI SATU MALAM DI PULAU TIDUNG

Sabtu, 15 Oktober 2011, pukul 12.45 WIB, meskipun telat dari jadwal, akhirnya kapal motor yang kami tumpangi merapat di Pelabuhan Betok, pelabuhan utama di Pulau Tidung. Di depan kantor pelabuhan, Pak Rommy, penduduk lokal yang menyewakan rumahnya, telah menunggu. Ia lalu mengantar kami ke tempat penginapan. Di tengah hari yang terik itu, saya bersama sembilan teman satu rombongan harus berjalan kaki lumayan jauh ke arah barat, membelah permukiman penduduk yang padat. 

Saya amati, hampir semua akses jalan di Pulau Tidung Besar dilapisi conblock, dan setiap beberapa puluh meter dihiasi polisi tidur. Lebar jalanannya pun rata-rata hanya 2,5 meter, meskipun ada beberapa gang yang lebar jalannya kurang dari 2 meter. Jadi, pejalan kaki harus berbagi ruang dengan para pedagang sayur yang membawa gerobak, pengendara sepeda, serta pengendara bentor (becak bermotor). 

Beberapa kali kami melewati rumah-rumah penduduk yang dijadikan homestay bagi wisatawan, dan hari itu semua homestay di dekat dermaga telah terisi. Maklum, setiap akhir pekan atau hari libur, jumlah pelancong yang datang selalu membeludak. Berdasarkan informasi yang saya peroleh, jumlah tamu yang berakhir pekan di pulau ini bisa mencapai 300 hingga 400 orang. Bahkan pada musim liburan, jumlah mereka bisa melampaui jumlah penduduk Pulau Tidung yang dihuni sekitar 4.500 jiwa. Harga sewa homestay umumnya bervariasi dan tergantung pada jumlah orang yang akan menginap, mulai dari Rp 300 ribu hingga Rp 600 ribu per malam.

Ada pula beberapa rumah yang halaman luarnya dihiasi jejeran puluhan sepeda. Sepeda-sepeda itu disediakan untuk wisatawan dengan harga sewa Rp 15 ribu per hari. Harga yang cukup murah. Layanan wisata di Pulau Tidung memang dikelola langsung oleh penduduk setempat. Mulai dari penyewaan peralatan selam, sepeda, pendirian toko, tempat makan, penginapan, hingga jasa transportasi darat merupakan usaha-usaha milik masyarakat Pulau Tidung. Pemerintah daerah tidak menarik retribusi apa pun dari semua jenis usaha tersebut.

Pulau Tidung sendiri memiliki luas sekitar 50 hektare dan merupakan pulau terbesar dalam gugusan pulau yang ada di Kepulauan Seribu. Menurut cerita yang santer beredar, nama Pulau Tidung berasal dari kata ‘'Tidung’ yang artinya tempat berlindung. Konon, dulu pulau ini sering dijadikan sebagai tempat berlindung nelayan dari para perompak. Karena itulah pulau ini dinamakan Pulau Tidung, yaitu pulau untuk tempat berlindung. 

Setelah kira-kira 15 menit menyusuri gang demi gang, akhirnya homestay kami ada di depan mata. Posisinya berdampingan dengan rumah sang pemilik homestay. Harga sewanya Rp 350 ribu. Ada dua kamar tidur, dua kamar mandi, satu ruang keluarga, satu unit AC, TV, kipas angin, dispenser air mineral, sofa, dan listrik yang menyala 24 jam. Lumayanlah untuk menginap satu malam. 

Pukul 2 siang, kami beranjak ke sisi belakang pulau dan menemukan pantai. Deretan perahu tertambat di sana. Salah satunya adalah milik Pak Erwin, penduduk lokal yang siap mengantar kami ‘melaut’. Di atas perahu, peralatan snorkeling, mulai dari life vest, google, snorkel, pipa udara, dan finn, telah tersedia. Setelah semua awak naik ke perahu, Pak Erwin menyelipkan tali pada poros engkol mesin dan menariknya. Tiga kali tarikan, barulah mesin motor air berbunyi. Trok… trok …trok …trok. Ritme suaranya yang semula lambat mulai cepat dan kian cepat, hingga perahu pun bergerak. 

Saya duduk dekat Pak Erwin di bagian belakang perahu, sementara teman-teman asyik bernarsis ria dengan kameranya masing-masing di bagian depan. Obrolan pun mengalir antara saya dan Pak Erwin. Banyak hal yang dia ceritakan, mulai dari keluarga besarnya, masa-masa muda saat berkeliling nusantara, asal-muasal penduduk Pulau Tidung, hingga tempat-tempat yang layak dikunjungi wisatawan. 

“Kalau untuk snorkeling, spot yang terdekat ada di sekitar Pulau Karang Beras atau Pulau Payung. Tapi di pantai Karang Beras banyak ubur-uburnya. Memang jenisnya kecil, cuma ubur-ubur jarum, tapi bisa membuat kulit bentol-bentol merah. Jadi lebih baik di pantai Pulau Payung saja. Di sana terumbu karangnya bagus-bagus. Saya jamin,” tutur Pak Erwin sambil memegang kemudi yang bentuknya menyerupai setang sepeda motor. Karena itulah sejak awal ia sudah mengarahkan moncong perahunya ke pantai Pulau Payung. 

Selang 20 menit kemudian, mesin dimatikan. Kami sudah tiba di pantai Pulau Payung. Pak Erwin melempar jangkarnya ke laut. Teman-teman pun langsung sibuk mengenakan peralatan snorkeling dan menyiapkan kamera underwater. Setelah mendengarkan briefing singkat dari Pak Erwin, satu per satu dari kami mulai menjatuhkan diri ke air. 

Tak terasa, hampir dua jam kami bermain-main di perairan dangkal Pulau Payung. Waktu sudah pukul setengah lima. Teman-teman pun sudah kenyang ber-cebang-cebung sambil mengamati uniknya rupa terumbu karang dan warna-warninya ikan. Saya mengajak Pak Erwin menggeber mesin perahunya untuk mengantar kami ke daratan Pulau Payung. Saya penasaran ingin melihat keberadaan pulau itu dari dekat.

Seiring dengan booming-nya wisata di Pulau Tidung, nama Pulau Payung juga mulai populer dan diminati wisatawan. “Lebaran kemarin, pengunjung yang datang ke sini sekitar 500 orang,” tutur Pak Erwin sambil mengerek perahunya ke darat saat kami menjejakkan kaki di atas pasir pantai. “Jumlah penduduk di sini cuma sekitar 150 orang. Jadi masih kelihatan sepi,” katanya lagi.

Yang pertama kali saya temui di Pulau Payung adalah jejeran warung makanan yang letaknya hanya beberapa meter dari dermaga. Ada beberapa rumah di sekitar warung-warung tersebut. Penduduk Pulau Payung saat ini sudah mulai menyewakan rumahnya kepada wisatawan yang ingin menginap. Tarifnya pun tidak jauh beda dengan tarif yang berlaku di Pulau Tidung Besar. 

Sambil mengamati keadaan sekeliling, kami berjalan pelan ke sebelah kanan pulau. Suasananya lumayan sepi. Sekitar 300 meter dari dermaga, saya berhenti untuk mengambil gambar. Di sana saya melihat sebuah rumah panggung yang memiliki banyak jendela. Lantai dan dindingnya berbahan kayu dan bercat warna merah. Semua pintunya tampak 'melongo' terbuka, tapi tidak ada orang di dalamnya. Letaknya pun terpencil dan kelihatan tak terurus. Ada dorongan untuk menghampiri rumah itu dan mencari tahu kegunaannya. Tapi karena sibuk melayani permintaan teman-teman yang ingin dipotret, rumah itu hingga kini menjadi misteri bagi saya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB. Kami memutuskan untuk memburu sunset di Jembatan Cinta, icon-nya Pulau Tidung. Pak Erwin pun bergegas menyalakan mesin perahunya dan membawa kami ke dermaga Betok di Pulau Tidung Besar. Tapi sayang, saat kami tiba di dermaga Betok, ‘sang raja siang’ sudah kadung pulang ke ufuk sana. “Main-main ke Jembatan Cinta-nya besok subuh saja, sekalian melihat sunrise. Biasanya setiap Minggu pagi di sana sangat ramai. Banyak orang yang lompat dari Jembatan Cinta. Fasilitas untuk watersport juga banyak,” kata Pak Erwin, mencoba meredam rasa kecewa yang menggelayut di dada kami. 

HARI KEDUA

Pukul 5 pagi, kami bergegas menuju Pantai Tanjongan Timur yang ada di sebelah timur Pulau Tidung Besar. Sasaran kali ini, tak lain dan tak bukan, adalah Jembatan Cinta. Kami sengaja tidak menyewa sepeda dan memilih berjalan kaki. Sebab, berdasarkan pengamatan saya kemarin, sepeda-sepeda yang disewakan biasanya dalam kondisi yang tidak sempurna, mulai dari bannya yang gampang kempis, batang besinya yang berkarat, sadelnya yang rusak, hingga setangnya yang tidak stabil.

Setelah kira-kira 45 menit berjalan cepat, kami tiba di Pantai Tanjongan Timur dan berhadapan dengan Jembatan Cinta. Sebagian besar bahan jembatan ini adalah kayu pohon kelapa, sedangkan tiang-tiang pancangnya berbahan beton. Dulu, Jembatan Cinta disebut sebagai jembatan apung karena terdiri dari kayu-kayu yang mengapung di atas ratusan drum dan terbentang panjang menghubungkan Pulau Tidung Besar dengan Pulau Tidung Kecil. Lalu, lantaran dianggap berbahaya saat terjadi pasang air laut, akhirnya jembatan ini direnovasi menjadi seperti penampilannya sekarang.

Ada beberapa kisah di balik penamaan Jembatan Cinta. Salah satunya menyebut bahwa Pulau Tidung Besar ibarat Adam, sedangkan Tidung Kecil adalah Hawa. Dan karena menjadi penghubung Adam dengan Hawa, jembatan yang panjangnya sekitar 800 meteran ini pun diberi nama "Cinta". Makanya wajar kalau kini berkembang ‘gosip’ bahwa jembatan ini dapat melanggengkan hubungan asmara muda-mudi hingga ke pelaminan.

Ada sebuah lengkungan di bagian pangkal jembatan, dengan tinggi sekitar 7 meter dari permukaan air. Di bagian lengkungan itulah biasanya wisatawan menguji nyali: terjun ke air. Uniknya, aksi yang membuat adrenalin berpacu kencang itu dianggap sebagai simbol pertanda sahnya seseorang datang ke Pulau Tidung. “Bila tidak terjun, berarti Anda dianggap tidak pernah datang ke Pulau Tidung,” begitulah kira-kira ‘undang-undang’ yang berlaku di jembatan ini. Dan boleh percaya boleh tidak, jika ada yang terjun sebanyak tujuh kali berturut-turut, maka orang itu akan langsung mendapatkan jodohnya. Dari atas lengkungan itu, saya dapat melihat keseluruhan Jembatan Cinta, lengkap dengan sosok Pulau Tidung Kecil dari kejauhan. 

Tapi, lantaran hari masih teramat pagi, jembatan masih sepi pengunjung. Hanya ada beberapa wisatawan yang sedang mengambil gambar di atas lengkungan jembatan dan belum ada yang mau nekat melompat ke air. Karena itulah kami memutuskan untuk menelusuri jembatan dan mampir terlebih dahulu di Pulau Tidung Kecil. 

Awalnya kami jalan berombongan, tapi lama-kelamaan mulai tercecer. Ada yang berjalan duluan di depan sembari sesekali mengambil gambar; ada yang berhenti sebentar sambil tertawa terkekeh-kekeh saat melihat hasil jepretan-jepretan kameranya; ada yang tertinggal di belakang karena berjalan pelan sambil ngobrol, ada pula yang duduk-duduk di pinggir jembatan sambil bereksperimen membuat foto siluet.

Air laut di sekitar Jembatan Cinta memang jernih sehingga kita dapat melihat warna-warni karang dan ikan-ikan yang berlalu-lalang. Menurut Pak Erwin kemarin, jembatan ini dulunya memiliki dua buah bale sebagai rest area. Tapi sayang, sepanjang mata memandang, saya tidak melihat satu bale pun. Yang ada tinggal puing-puing dan pondasinya saja. 

Akhirnya kami menginjak deretan balok terakhir jembatan dan menapak di Pulau Tidung Kecil. Sudah ada beberapa pengunjung di sana. Kami lalu bergerak ke sisi kanan, menyusuri jalan setapak ber-conblock yang di kanan-kirinya dipenuhi semak kering dan jejeran pohon lamtoro. Saya mengajak teman-teman mengelilingi pulau kecil ini karena penasaran terhadap informasi dari Pak Erwin. “Kalau jalan terus ke ujung Pulau Tidung Kecil, nanti kamu akan melewati kantor milik Dinas Kehutanan, lalu melewati makam tua, dan menemukan pantai yang bagus yang pasirnya sangat halus, bersih, berwarna putih. Airnya juga sangat bening. Jarang orang yang tahu pantai itu,” katanya kemarin.

Makam tua yang dimaksud Pak Erwin tadi adalah makam Panglima Hitam, orang pertama yang menginjakkan kaki di pulau ini.  Menurut beberapa sumber, Panglima Hitam adalah panglima perang dari Suku Tidung di Provinsi Kalimantan Timur. Konon, panglima ini tidak pernah mau tunduk kepada Pemerintahan Kolonial Belanda. Maka Belanda menangkap dan membuangnya ke sebuah pulau (Pulau Tidung Kecil) yang terletak di Kepulauan Seribu pada awal abad ke-17. Karena itulah ada anggapan bahwa penduduk asli Pulau Tidung adalah Keturunan Suku Tidung dari Kalimantan Timur.

Sekitar 10 menit berjalan kaki, ada beberapa teman yang tampak kelelahan dan berjalan pelan kira-kira 100 meter di belakang. Saya berhenti sebentar sambil berpikir mungkinkah kami sanggup mengelilingi pulau ini. Apalagi waktu sudah menunjukkan pukul 7.30. Apa boleh buat, saya harus mengurungkan niat menengok makam tua yang diceritakan Pak Erwin, dan harus cepat kembali ke Jembatan Cinta untuk melihat keramaian di sana. 

Di sebelah kiri, di seberang lahan bersemak yang tanahnya dipenuhi abu sisa kebakaran, samar-samar saya melihat pantai. Tebakan saya, itu pasti sisi barat pulau ini. Malas berpikir panjang, saya langsung melintasi lahan bersemak itu. Dan benar, saya menemukan pantai yang di sekitarnya banyak terdapat tanaman manggroe setinggi pinggang orang dewasa. 

Rupanya ada seorang ibu muda yang mengikuti kami memotong jalan. Ibu muda itu segera menyadari bahwa dirinya tengah berada di pinggir pantai yang kurang 'ramah'. "Wah Mas, tanggung jawab dong! Kita salah jalan kan? Saya takut nanti malah tambah nyasar. Mendingan kita balik saja lagi deh ke seberang," tuturnya dengan nada cemas. Agak keki juga mendengar ucapan si ibu 'dadakan' itu. "Siapa ibu ini? Kok nuduh sembarangan. Siapa pula yang mengajak dia?" saya bertanya-tanya dalam hati. 

Ibu itu mengaku bahwa dirinya telah tercecer dan tertinggal jauh di belakang rombongannya. Saya jadi tak tega saat menyadari bahwa ibu muda itu benar-benar sendirian dan kebingungan. "Ayo deh Bu saya antar lagi ke seberang sana," kata saya, menawarkan diri. "Nggak mau ah. Di seberang sana sangat sepi. Saya takut," tuturnya lagi. Beberapa detik kemudian, ia memijit-mijit keypad HP-nya untuk menghubungi salah seorang teman rombongannya dan menceritakan situasi yang tengah terjadi. "Iya nih Mbak, saya nggak tahu lagi ada di mana. Tadinya saya ikut jalan bareng dengan rombongan lain, tapi sekarang kok malah nyasar," katanya, entah kepada siapa yang jadi lawan bicara di HP-nya. "Lebai banget sih ibu ini," gerutu saya dalam hati. 

Saya mencoba meyakinkan ibu muda itu bahwa kami tidak sedang tersesat. "Kita bisa lewat dari sini kok Bu, saya yakin. Kita tinggal jalan mengikuti jalur pasir ini saja kok. Nah di depan sana, jembatan sudah kelihatan," tutur saya sambil menunjuk ke arah barat. Beberapa orang teman juga membantu menenangkan si ibu muda tadi. Untungnya, ibu itu akhirnya manut. Kami lalu berjalan menyusuri pantai sampai akhirnya kembali melihat Jembatan Cinta. Si ibu muda yang 'heboh' tadi langsung ngeloyor pergi entah ke mana.

Sekitar 50 meter sebelum jembatan, saya menemukan area kecil yang lumayan nyaman untuk sekadar duduk-duduk sebentar, sambil memandangi orang-orang yang berlalu-lalang di Jembatan Cinta. Di sisi kiri kami ada sebuah warung tenda ala kadarnya. Iseng-iseng saya memesan mie rebus kepada si mbak penjaga warung. Lumayanlah untuk mengisi perut, apalagi sejak subuh tadi saya belum sarapan, begitu juga dengan teman-teman. Tapi ternyata yang memesan makanan cuma saya. "Nanti sajalah makannya di seberang jembatan sana. Kan di sana banyak warung makanan, banyak pilihan pula," tutur Dona, yang langsung 'diamini' oleh teman-teman lainnya. Ya sudah, saya makan sendirian. 

Selesai mengembalikan mangkok mie dan membayar 7 ribu rupiah, saya bergegas menyusul teman-teman yang sudah duluan meniti jembatan. Sekitar pukul 8 pagi, suasana di sepanjang jembatan sudah lumayan ramai, terlebih lagi di bagian cekungannya. Di sana, adegan terjun bebas sudah dimulai. Satu per satu wisatawan bergantian meluncur dan langsung terbenam ke bawah permukaan air. 

Tak mau menyesal, Ridwan (salah satu dari kami) langsung merapatkan badannya ke sisi luar pagar jembatan. Setelah merasa siap, ia pun meluncur. Byurrrrr! Air cipratannya mencapai dua meter ke atas. Selama beberapa detik, tubuhnya hilang di antara buih-buih yang membentuk lingkaran besar di permukaan air. Bak keranjingan, ia mengulanginya hingga beberapa kali. "Kalau sudah terjun sekali, kok rasanya ketagihan ya? Ayo deh cobain!" katanya. Sayang, gaya terjunnya biasa-biasa saja, malah cenderung monoton. Padahal saya berharap dia terjun dengan tubuh meliuk-liuk bak mainan yoyo, atau kalau perlu, memadukan gaya tari balet dengan bungee jumping. 

Tak cuma terjun bebas yang jadi tontonan saat itu. Beberapa unit banana boat beserta para penumpangnya tampak melaju kencang dan berseliweran di sekitar pantai. Di sisi lainnya, sebuah perahu boat meluncur cepat di atas permukaan air sambil menarik balon besar berbentuk donat, lengkap dengan tiga penumpang di atasnya. 

Sementara di darat, di arena outdoor, puluhan orang terpaku mengamati beberapa anak kecil yang tengah beraksi di ketinggian 12 meter pada wahana high rope, yang sambung-menyambung dengan wahana monkey bridge, spider web, dan flying fox. Sedangkan di sisi timur, di sebelah lapangan voli pantai, beberapa orang dewasa tengah berjibaku bermain sepakbola pasir. 

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 siang. Ingin rasanya berlama-lama Pantai Tanjongan Timur ini agar bisa mencicipi kembali es rumput laut di sebuah warung tenda sambil menikmati suasana yang ada. Tapi siang itu juga kami harus pulang ke Jakarta. Lagi pula, kapal ojek yang bersandar di dermaga Betok tentu tak akan mau menunggu bila kami terlambat tiba di sana pukul 1 siang nanti. 

Dengan menumpang empat unit bentor, kami kembali ke homestay untuk mandi, berbenah, dan mengepak barang-barang bawaan. Pukul 13.10 WIB, kapal kami mulai meninggalkan Dermaga Betok dan tiba di Muara Angke kira-kira tiga jam kemudian. 

Teks: Bonny Dwifriansyah
Foto: Bonny Dwifriansyah, Dede Syarifudin, Syarasmanda Sugiartoputri

"UHUIIII... UDAH DEKAT, SETENGAH JAM LAGI...!!!"

“Bantengan, Bantengan,” kata Pak Joko, saat jeep hardtop yang membawa kami dari Pasar Tumpang (Malang) berhenti di atas jembatan beton Pos Bantengan. Kernet jeep itu kemudian menurunkan tiga tas keril kami yang saling bertumpukan dengan keril-keril lainnya di atas kepala jeep. Ia juga menyempatkan diri menunjukkan jalan setapak yang biasa dirambah para pendaki atau backpacker untuk menuju Gunung Bromo. 

“Itu jalurnya, ikuti saja terus sampai nanti ketemu shelter kecil di bawah sana,” katanya dari pinggir jembatan, sambil menunjuk jalanan kecil ber-conblock yang hampir seluruh permukaannya tertutup ilalang. Dari atas jembatan, saya turun dan bergerak mendekati jalur kecil yang ditunjuk Pak Joko. Setelah memeriksa dan meyakini trek tersebut memang mengarah ke bawah bukit, saya kembali ke jembatan. "Wah pemandangannya dari sini keren Bos. Kapan-kapan saya juga mau ke Bromo lewat sini deh," ujar seorang penumpang jeep yang hendak mendaki Semeru. "Hati-hati di jalan Bos," tambah orang itu yang baru saja saya kenal selama perjalanan di atas jeep. 

Beberapa menit kemudian, jeep yang biasa digunakan untuk mengantar para pendaki ke Desa Ranu Pane itu meninggalkan kami, menyisakan debu dan jejak bannya yang sangat kentara. "Istirahat dulu sebentar di pos ini ya?  Sebelum jalan, kita mau makan lagi nggak?" kata saya kepada Gopal dan Dona, sembari memindahkan kerir dari tanah ke atas dipan pos untuk membersihkannya dari debu. "Nggak usah makan lagi Bon. Masih kenyang. Santai dulu aja," tutur Gopal, sambil mengeluarkan satu sachet minuman serbuk rasa orange untuk dicampurkan dengan air mineral dalam botol kecil. 

Setelah beres, Gopal langsung berdiri mantap dengan kerir di punggungnya, begitu juga Dona. Bagi mereka berdua, jalan-jalan ke Bromo ini adalah yang pertama kali, terlebih melalui jalur yang tak biasa ini. Sedangkan bagi saya, jalur ini pernah saya lintasi pada tahun 1999 lalu. 


Setelah berdoa bersama, Gopal langsung berjalan paling depan, menelusuri trek kecil yang di kanan kirinya penuh dengan semak-semak perdu dan rumput-rumput setinggi lutut. Jam di HP telah menunjukkan pukul 17.10 waktu setempat. "Gawat, sebentar lagi gelap. Bisa sampai ke Cemoro Lawang nggak ya?" saya bertanya-tanya dalam hati. Sebab, menurut orang-orang yang pernah melintasi trek ini, dibutuhkan kira-kira 5 jam sampai 6 jam untuk mencapai Cemoro Lawang.

Kami terus jalan menuruni bukit. Trek tampak cukup curam serta licin dengan jalur zig-zag ke kiri dan kanan.  Kemiringan jalur hampir 45 derajat. Jalurnya pun sangat sempit. Bahkan ada beberapa titik yang lebar jalurnya hanya pas untuk dua telapak kaki yang dirapatkan. Lengah sedikit, badan bakal nyungsep, berguling-guling, dan mungkin riwayat bisa 'khatam". Apalagi, beban kerir yang melekat di punggung sangat membatasi gerak dan kelincahan kaki. 

Sesekali saya menyuruh Gopal dan Dona berhenti sebentar di beberapa titik untuk mengambil beberapa jepretan foto  dengan latar bukit teletubbies, bukit ilustrasi yang sering muncul di film anak-anak itu.

Kira-kira setengah jam menuruni bukit, kami tiba di sepetak lahan rata yang dipayungi dua pohon rindang. Ada tali rapia yang masih membentang di dua pohon tadi. Ada pula sisa-sisa arang bekas api unggun. "Wah Pal, kayaknya asyik nih kalau kita bangun tenda di sini. Sekali-kalilah kita nge-camp di tempat kayak gini. Cari pengalaman baru," kata saya kepada Gopal.  

Tapi Dona mengerutkan dahinya sambil melihat saya dengan pandangan yang tidak biasa. "Jangan ah! Kita jalan aja terus. Gue masih kuat kok," tuturnya. Saya menangkap gelagat dia tidak nyaman terhadap aura di tempat itu. "Iya Bon, jangan nge-camp di sini ah! Kita jalan terus aja. Yuk ah!" timpal Gopal sambil kembali menyandang kerirnya. Diam-diam saya mengerti alasan mereka tidak mengiyakan ide tadi. Di sini sepi. Jarang dilewati orang. Tak ada sumber air. Tak ada jaminan keamanan. Bisa jadi tempat ini angker. Bagaimana kalau nanti malam ada orang jahat atau kejadian-kejadian yang susah dijelaskan dengan nalar? Pikiran-pikiran galau langsung memenuhi benak saya saat itu. 

Kami kembali bergerak, hingga menjejak di lahan datar. Sebagian besar permukaan tanah tertimbun oleh abu hitam sisa kebakaran dan debu-debu vulkanik pasca erupsi Bromo di akhir tahun lalu. Kami terus mengikuti jalur hingga berhadapan dengan sebuah saung. Pos Bantengan, begitulah orang-orang menyebutnya. Miris rasanya melihat kondisi pos kecil ini. Genteng-genteng di atapnya sudah tidak ada. Papan kayu yang biasa digunakan untuk duduk-duduk pun sudah tidak ada. Hanya kerangka atap dan empat tiang penyangga saja yang masih tersisa. 

Saya masih ingat, 12 tahun yang lalu, saya dan teman-teman sempat mampir dan beristirahat di pos yang hanya berukuran 2 x 2 meter ini. Waktu itu kondisi pos ini masih lumayan lengkap. Ilalang di sekelilingnya bergerak kompak, bercondong ke satu arah mengikuti gerak angin, dan kadang berubah ke arah sebaliknya. Dulu, tak puas rasanya duduk berselonjor di depan di pos ini sambil membiarkan mata terbius oleh moleknya bukit yang membentang di depan. Teman-teman pun puas bereksperimen membuat gema suara yang paling oke. Tapi itu dulu. Sekarang, kondisinya sangat beda.

Warna langit makin pucat. Kabut-kabut mulai berdatangan, dan beberapa menit lagi gelap bakal menghampiri. Kami bertiga harus kembali bergerak mengikuti jalur pasir. Semakin jauh, permukaan pasir semakin tebal. Tidak ada semak yang sanggup hidup di lautan pasir seperti ini. Di sana-sini ada jejak-jejak ban mobil jeep. Banyak pula jejak roda sepeda gunung dan sepeda motor. 

Hari benar-benar sudah gelap. Senter-senter mulai dinyalakan. Kami bertiga sengaja berjalan berdampingan agar tidak terkena kepulan debu dari entakan sepatu masing-masing.

Beberapa puluh menit berjalan, saya menangkap cahaya (yang mirip dengan cahaya senter) bergerak-gerak dari arah depan, menyelip di antara pekatnya kabut. Ternyata cahaya itu berasal dari lampu sepeda motor yang dikendarai seorang warga Tengger. "Pak numpang tanya, Cemoro Lawang masih jauh ya? Kira-kira berapa jam lagi ya dari sini? tanya saya kepada lelaki warga Tengger itu. "Setengah jam lagi, Dek," jawabnya dengan singkat. Lalu ia kembali memacu kendaraannya ke arah yang berlawanan dengan kami. Entah ke mana tujuan lelaki itu. 


Jawaban singkat tadi seolah menjadi jus segar bagi kami. "Uhuiii..., udah dekat, setengah jam lagi," kata Gopal. Entah kenapa tiba-tiba saja kaki  jadi terasa ringan saat digerakkan. Energi pun jadi bertambah. Dari kejauhan, kelap-kelip lampu pada menara dan perumahan di Cemoro Lawang sudah tampak. "Ayo semangat. Sebentar lagi kita sampai," tambah Gopal kepada Dona. 

Tapi, satu jam berjalan, pemandangan kelap-kelipnya lampu di Cemoro Lawang masih saja terpaut jauh di depan, mungkin masih beberapa kilometer lagi. Keraguan Dona pun muncul. "Hah, setengah jam? Kayaknya bapak tadi ngibul deh. Nggak mungkin setengah jam tuh," tutur Dona saat berhenti sebentar untuk mengatur ritme napas. "Mungkin orang Tengger tadi sengaja bohong begitu supaya kita tetap jalan terus, supaya kita nggak  berhenti di sini. Palingan sebentar lagi kita sampai. Santai saja," ujar Gopal, untuk sedikit menghibur Dona. 

Ah, dugaan buruk saya tenyata benar. Sejak semula, saya memang meragukan jawaban orang Tengger tadi. Saya tahu, jarak menuju Cemoro Lawang memang masih jauh, mungkin sekitar tiga atau empat jam lagi. Tapi hal itu cukup saya saja yang tahu. Sebab, kalau sampai Dona tahu, semangatnya bisa rontok. Saya sih tidak meragukan mentalnya Gopal, karena dia sudah terbiasa menghadapi medan macam apa pun. 

Beberapa kali saya mendongak. Sulit menemukan bintang di langit sana. Sementara kabut benar-benar telah menguasai sekeliling kami. Dan tiba-tiba saja kecemasan menyeruak di kepala. Bagaimana jadinya kalau turun hujan badai? Pasir-pasir vulkanik ini pasti menjadi lumpur. Melangkah di atas padang pasir saja sudah lumayan berat, apalagi bila harus menapaki lumpur. Terlebih, udara di lembah luas ini terkenal sangat dingin. Dan celakanya lagi, saat ini tubuh kami mulai kepayahan. Akh... gawat.  

Kami terus bergerak. Dua jam setengah pun sudah berlalu. Masih saja Cemoro Lawang tampak sombong nun jauh di sana, seolah-olah tak mau dihampiri. Beberapa kali kami harus berhenti. Mengatur napas dan me-refresh tenaga lagi. Berkali-kali.  

Baru saja menenggak air botol mineral, saya melihat sorotan lampu tembak menembus dinding kabut, jauh dari arah belakang. Semakin lama, saya dapat melihat bahwa itu adalah iring-iringan tiga jeep hardtop. "Alhamdulillah, ada kendaraan. Mudah-mudahan bisa ngasih tumpangan," kata Dona. 

Tapi apa lacur, setelah mendekat, jeep-jeep dengan bak tertutup itu lewat begitu saja. Kaca-kacanya gelap, sehingga sulit melihat orang-orang di dalamnya. Mungkin mereka rombongan penggede atau orang-orang kaya yang tidak bisa dan tak mau diganggu. Kami pun tak punya keberanian untuk menyetop mereka. "Huh sombongnya!" kutuk saya. Begitu juga Gopal dan Dona.

Sambil memegang kain slayer untuk menutupi hidung dan mulut dari serbuan abu-abu sisa empasan rombongan jeep tadi, kami kembali bergerak. 10 menit berjalan, di depan kami ada satu jeep yang akan melintas. Tak disangka, jeep tersebut adalah salah satu dari rombongan jeep tadi. Jeep itu lalu berputar dan menghampiri kami. "Mau ke mana, Dek? Ke Cemoro Lawang juga? Ayo ikut kami saja!" kata si pemilik jeep. Huaahhh... akhirnya. "Alhamdulillah ya Allah, pertolongan-Mu telah sampai," seru saya dalam hati. *** (Teks & foto: Bonny Dwifriansyah)

*******************************************************************************

 
 




SUARA TANGIS DI PURA 'PRABU SILIWANGI'

Pura Hindu yang dianggap terbesar di Pulau Jawa ternyata ada di daerah Bogor? Pertanyaan itulah yang mengusik benak saya selama beberapa pekan belakangan. Tak mau berlama-lama dirundung penasaran, hari Minggu, 3 Juli 2011, saya langsung meluncur ke lokasi pura tersebut bersama seorang teman, Novi. 
Dari Stasiun Bogor, kami menumpangi angkot menuju Bogor Trade Mall, lalu men-charter sebuah angkot bernomor trayek 03 jurusan Ramayana-Ciapus. Setelah setengah jam melaju di Jalan Raya Ciapus, angkot kemudian berbelok ke kiri dan menyelusuri jalan yang penuh bopeng dan debu. 


Sekitar 500 meter kemudian, angkot kami berhadapan dengan jembatan yang di pinggirnya terdapat sebuah benda berbentuk kotak yang ditutupi kain putih dan kuning. Spontan, sopir angkot membunyikan klakson tiga kali. “Supaya tidak nyasar. Banyak mobil yang kesasar hanya karena tidak membunyikan klakson di jembatan ini, meskipun mereka sering ke sini,” tutur sang sopir. 

Ada tiga pilihan transportasi untuk mencapai Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya  Taman Sari Gunung Salak. Yang pertama adalah menggunakan kendaraan pribadi. Yang kedua, menggunakan jasa travel. Dan yang ketiga adalah dengan menyewa angkot seperti yang kami lakukan ini.  

Setelah menyusuri jalan kira-kira sejauh 1 km, kami tiba di halaman parkir kompleks pura. Tak ada sesuatu yang istimewa di halaman parkirnya. Tidak ada patung, kolam air mancur,  loket masuk, ataupun tugu simbol selamat datang. Yang ada hanyalah sebuah plang pendek bertulisan “Tata Tertib Memasuki Pura” yang tersembul di antara tanaman.

Saya menapaki jalan masuk yang menanjak, lalu menemui seorang pengayah (pengurus pura) yang bernama Made Santika atau biasa dipanggil Pak Made. Saat itu, Pak Made sedang duduk santai bersama dua kerabatnya pada sebuah joglo kecil di area yang dinamakan nista mandala (area luar yang masih satu kesatuan dengan kompleks pura). “Silakan masuk dan melihat-lihat lingkungan pura. Tapi sebelumnya, setiap tamu yang datang harus mengikatkan selendang ini di pinggang,” tutur Pak Made sambil menyodorkan dua helai kain berwarna kuning. Belakangan, saya mendapat tahu bahwa pemakaian selendang tersebut adalah simbol pengikat niat-niat buruk, sekaligus penghormatan terhadap kesucian pura. 

Setelah itu, saya harus kembali menaiki anak tangga hingga akhirnya menginjak sebuah area berupa halaman rumput yang luas. Area tersebut dinamakan madya mandala, yakni bagian tengah kompleks pura. Bau harum bakaran dupa langsung menyentuh hidung kami. Sekitar 4 meter di depan kami ada sebuah plang kecil bertulisan “Tempat Sandal & Sepatu”. Takut terkena tulah, kami langsung melucuti alas kaki masing-masing dan menyelipkannya di rak yang disediakan.

Di bagian depan area madya mandala terdapat patung Dewa Ganesha, yakni  Dewa Ilmu Pengetahuan dan Kebijaksanaan dalam agama Hindu. Di hadapan patung itu, lima pemedek (jemaah umat Hindu) berbaju putih dan bersarung batik sedang duduk dengan kedua telapak tangan dalam posisi sembah setinggi dahi. “Sssttt… jangan berisik! Ada yang sedang sembahyang,” ujar Novi sambil mencolek pinggang saya. 

Perhatian saya lalu tertuju pada tiga bangunan yang menyerupai Candi Prambanan. Tiga bangunan hitam  itu dinamakan Kori Agung, yakni pintu gerbang memasuki utamaning mandala (area paling atas dan paling suci). Tiap-tiap Kori Agung yang berjejer itu memiliki anak tangga sebagai titian antara madya mandala dan utamaning mandala. 

Seorang pemangku (pemimpin upacara sembahyang di pura umat Hindu) tiba-tiba muncul dari salah satu Kori Agung, lalu berjalan menuruni anak tangga sambil membawa tampah. Beberapa pria dan wanita dewasa mengikuti sang pemangku dari belakang. Rupanya mereka baru saja selesai melakukan ritual di area utamaning mandala.

Mata saya terus berkeliling memandangi sudut demi sudut madya mandala. Ada sebuah balai yang menyerupai rumah joglo. Balai yang dinamakan Bale Pengambuhan ini berfungsi sebagai tempat beristirahat, musyawarah, atau tempat mempersiapkan sesaji. Ada pula sebuah pelinggih atau pura kecil yang digunakan para pemedek untuk bersembahyang sebelum mereka menuju ke pura utama di utamaning mandala. 


Suasana yang semula hening berubah menjadi sedikit riuh oleh datangnya sekelompok pemedek lain yang didominasi oleh kaum perempuan dewasa berkebaya putih, bersarung batik, serta berselendang. Sementara pemedek laki-lakinya mengenakan kemeja putih, kain sarung, serta udeng putih. Mereka lalu berkumpul di Bale Pengambuhan untuk mempersiapkan sesajen. Pisang, telur, anggur, jeruk, apel, kerupuk,  aneka warna bunga, dan pernak-pernik janur kuning disatukan dalam beberapa besek. Setelah lengkap, beberapa besek tadi diletakkan di atas meja panjang yang ada di area pelinggih. 

Beberapa menit kemudian, seorang pemangku mengambil posisi duduk pada sebuah mimbar di area pelinggih. Ada beberapa pemedek yang juga duduk di sekitar sang pemangku, sedangkan sebagian besar lainnya duduk di Bale Pengambuhan dan siap mengikuti prosesi sembahyang. Tak lama kemudian, terdengar suara kleneng-kleneng dari sebuah lonceng kecil yang digoyang-goyangkan oleh pemangku, disusul ucapan mantra yang cukup panjang.

Tiba-tiba dari area pelinggih terdengar suara sengau panjang yang lama-lama berubah menjadi suara tangis, diselingi ucapan-ucapan dalam bahasa Bali. Mata semua pemedek langsung tertuju ke arah suara aneh tersebut. Saya menangkap itu adalah suara laki-laki yang tengah kesurupan. Sang pemangku mencoba berkomunikasi dengan orang yang kesurupan itu dan berusaha menenangkannya. Selang beberapa menit kemudian, suara tangis pun reda dan berganti kembali menjadi suara klenengan lonceng.

Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya  mulai dibangun pada tahun 1995, tapi baru diresmikan pada tahun 2005. Pura ini dibangun perlahan-lahan secara gotong royong oleh umat Hindu-Bali serta para donatur di bawah naungan Yayasan Taman Sari. Pihak yayasan telah menghabiskan dana sekitar Rp 150 miliar untuk membangun pura yang luasnya mencapai tiga hektar ini. Bahkan, pihak yayasan mengaku masih membutuhkan banyak dana untuk menyempurnakan Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya. Sebab, pembangunan tempat peribadatan ini baru mencapai 30 persen. 

Salah satu alasan mengapa Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya  dibangun di Kampung Warung Loak di kaki Gunung Salak adalah untuk menghormati Prabu Siliwangi sebagai Raja Padjajaran paling berpengaruh di Tatar Sunda (Jawa Barat), sekaligus menjadi bentuk penghargaan bagi Tatar Sunda sebagai titik awal penyebaran agama Hindu di tanah Jawa. 

Konon, area Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya dianggap sebagai salah satu petilasan Prabu Siliwangi dan bahkan tempat ia menghilang secara gaib bersama para prajuritnya saat dikejar oleh pasukan Islam yang dipimpin oleh Prabu Kian Santang (anak kandung Prabu Siliwangi). Waktu itu, Prabu Kian Santang mencoba memaksa ayahanda memeluk agama Islam. 



Alasan lainnya, pada tahun 1981, area ini dikenal sebagai tempat batu menyan, yakni batu yang selalu mengeluarkan asap dupa. Di batu itu pula masyarakat sering melihat cahaya putih yang turun dari langit. Hal itu dibenarkan oleh seorang pemangku yang bernama I Nyoman Randeg, yang dulu sering bersemedi di tempat ini. Bahkan ia juga mengaku sering mengalami kejadian aneh, misalnya melihat candi secara tiba-tiba atau didatangi seorang laki-laki gagah berusia 50 tahunan yang mengenakan atribut ala seorang raja. Nyoman Randeg juga pernah melihat laki-laki tersebut duduk di singgasana dengan dikelilingi puteri-puteri nan ayu. Di kemudian hari, Nyoman Randeg akhirnya menyadari bahwa laki-laki misterius tadi adalah arwah Prabu Siliwangi. 

Begitu pula hal yang dialami para tokoh Hindu Bali lainnya yang juga sering menyepi di Kampung Warung Loak. Alhasil, mereka meyakini bahwa area tersebut memancarkan  aura mistik yang sangat kuat dan memiliki kaitan erat dengan figur Prabu Siliwangi. Mereka  pun berasumsi bahwa saat Kerajaan Padjajaran masih berdiri pada abad ke-14 M, di lereng Gunung Salak pernah ada sebuah candi. Itulah sebabnya pihak yayasan juga membuat candi di pura ini. 

Pemberian nama pura ini pun dilakukan dengan sangat hati-hati. Setelah para pemuka agama Hindu dari Jabotabek, Lampung, dan Bali berdiskusi, akhirnya disepakati bahwa nama pura ini adalah Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya Taman Sari Gunung Salak. 

Kata parahyangan berarti ‘tempat Sanghyang Widhi; kata agung berarti ‘besar atau mulia’; kata jagat berarti bumi; dan kata kartta berarti ‘lahir’ atau ‘muncul’. Sedangkan kata taman sari diambil dari nama kecamatan tempat pura ini berada. Dengan demikian, keseluruhan nama pura ini bermakna “pura tempat yang indah dan mulia sebagai istana Tuhan Yang Maha Agung di Kecamatan Taman sari Gunung Salak.

Sebagai pura terbesar di Pulau Jawa, Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya juga akan memiliki asrama dan gedung perpustakaan. Bahkan pura ini juga digadang-gadangkan bakal menjadi pelopor pura modern serta pusat pembinaan generasi muda Hindu seiring dengan bakal dibangunnya jaringan internet serta stasiun radio. 

Kembali ke prosesi ritual para pemedek. Kira-kira setengah jam kemudian, persembahyangan diakhiri dengan pemercikan air suci dan penempelan sejumput bija (beras yang disucikan) di dahi para pemedek. Setelah itu, mereka mengemas beberapa besek yang sudah terisi sajen untuk dibawa ke utamaning mandala. 

Saya menyempatkan diri untuk berbincang sebentar dengan sang pemangku. Diawali dengan perkenalan diri, saya menanyakan ihwal sembahyang yang dilakukan tadi. “Ritual tadi hanya sembahyang biasa yang bisa dilakukan kapan saja,” tutur sang pemangku yang bernama Jero Mangku Nengah Widiana. “Kalau mau melihat ritual besar di pura ini, datanglah pada hari Piodalan di bulan September nanti,” ujarnya. (Piodalan adalah peringatan hari kelahiran pura yang dirayakan dengan upacara pemujaan Tuhan). 

Setelah itu, kami meniti anak tangga menuju area utamaning mandala. Demi menjaga kekhusyukan para pemedek yang beritual di pura induk, kami hanya diperbolehkan melihat-lihat sekeliling dari gerbang Kori Agung. Di area yang dianggap paling kudus tersebut tampak sebuah pelataran menyerupai taman yang di kiri dan kanannya ada beberapa buah saung. 

Di seberang pelataran ada sebuah candi yang “dijaga” oleh dua patung macan putih dan hitam, sebuah padmasana, sebuah balai, serta beberapa buah pelinggih. Jauh di belakang bangunan-bangunan suci tersebut, kabut tebal tampak mengambang di atas rerimbunan hutan dan gugusan bukit Gunung Salak. 

Menyadari hari yang menjelang sore, akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi kunjungan di pura yang sarat sejarah ini. Usai memohon pamit kepada Pak Made dan mencemplungkan uang ala kadarnya ke dalam kotak sumbangan di area nista mandala, kami beranjak menuju jalan keluar. Suasana mendung menemani perjalanan pulang kami menuju Jakarta.  *** (Teks dan foto oleh Bonny Dwifriansyah) 

******************************************************************************
















Laman